Warung Roti Dalam Mimpi

Kapan hari ke Malang berdua sama mama saya jalan-jalan menghamburkan jenuh dan melepas uang. Habiskan semuaaa! Hajar bleeeh!! Duit abis ntar nyari lagi… di kantong papa…

Huuuuuuuu…!!

Kyakakak!!

Jalan-jalan ke mana, mbak bro?

Pas tinggal di kota, yang namanya jalan-jalan itu ke pegunungan, liat sawah, cakrawala, dan orang mandi di kali. Sekarang kita orang tinggal di desa, tiap hari pemandangannya seperti yang tersebut di atas, maka tujuan utama jalan-jalan kita sekarang pasti mall!

Kita ke Matos.

Eh, Matos tuh sebetulnya mall bukan sih?? Lebih mirip Pasar Legi sih, cuman berhubung lantai dan langit-langitnya berkilauan, dan pramuniaganya sedap begini…

image

Oke deh… Matos is a mall.

Setelah capek keliling-keliling nyari makan di tong-tong sampahnya pujasera, dan cuci mata di toilet, kita berdua nongkrong di warung yang menyediakan smoking room yang sangat-sangat cozy karena nggak crowded.

image

Demen buuuanget saya sama smoking room yang begini. AC-nya nggak dingin, kursinya nggak keras, mejanya luas… dan… kebetulan saya ngantuk, jadi kebayang akan betapa nikmatnya tidur mlungker di atas meja-meja itu! Tapi ah, emang kita cewek apaan kok tidurnya di meja?!!

Biar gak ngantuk, saya merokok aja deh… (emang ke situ niat mau ngerokok!) Sementara emak saya ngobrol by phone sama entah siapa pake bahasa planet asalnya yang saya nggak paham sedikitpun, saya selfie-selfie ga jelas…

image

Kuntilanak kalah serem yah?! Ahahaha!!

Setelah mengunyah 3 batang rokok, saya ajak mama saya pulang. Tapi sebelum pulang, kita beli oleh-oleh dulu buat anak-anak, ke Bread Story. Masih di Matos juga itu warung rotinya… (Maunya sih ke Bread Talk, tapi berhubung gak nemu itu di situ, akhirnya terpaksa ke situ… (ngerti kan maksut saya?) lagian kan sama aja, talk sama story sama-sama roti… Paling ya gitu-gitu aja rasanya… Masih enakan siomay.)

Nah… Pemirsa, inilah cerita utama dari tulisan saya kali ini! Di warung roti itu saya merinding dangdut. Bukan karena liat wajah saya sendiri, tapi karena saya mendapati bahwa saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat itu sebelumnya… di alam mimpi…

Mulai layout warungnya yang terasa sempit dan agak-agak berantakan, suasana spooky-nya yang merambat lamat-lamat ke dalam sukma, sampe posisi warungnya yang menghadap lorong panjang tuh sama persis! “Gak mbuak blasss!!” kalo orang Surabaya bilang. Sama seperti dalam mimpi saya. Padahal seumur hidup baru sekali ini saya main ke Matos. Gamblang aja, baru kali ini juga saya masuk Bread Story di Matos.

Di dalam konter Bread Story, sambil melongo megang nampan roti, saya merasa gila, merasa aneh, merasa ada sesuatu yang ganjil tapi juga genap. Saya takut, tapi juga takjub. Saya pengen tau lebih jauh tentang ini — tentang warung roti dan hubungannya dengan saya — tapi gak tau harus cari tau ke mana. Dalam kepala berputar-putar seribu tanda tanya: 4Da apA 1ni?!

Kok mendadak alay…

Pernah punya pengalaman serupa? Share dong, please…?? Saya penasaran: apakah ini sekedar kebetulan, atau memiliki sesuatu makna?

Brem 180 Sentimeter

image

ABG sekarang pada kenal gak ya sama kuliner muuuanis pembuat tenggorokan perih yang bernama BREM?

Ah ngapain juga saya pusingin ABG kenal brem apa nggak wong pembaca blog ini rata-rata bukan ABG (baca: sudah tua dewasa).

Ok, so… Kalo Bram lahirnya di Surabaya, Brem lahirnya di Madiun. Gak tau gimana ceritanya ada brem nyampe Blitar, kapan hari pas belanja, tau-tau suami saya nodongkan brem ke perut saya, “Ada brem, mau nggak?”

Meski ragu, khawatir sakit perut dan radang tenggorokan, bremnya saya biarkan masuk ke keranjang belanja. Pikir punya pikir, saya sudah lama nggak nglamuti brem. Terakhir kalo gak salah tuh… SD kelas 6.

Perpisahan SD, sekelas pada jalan-jalan ke Jogja. Biasa… Ke candi-candi dan monumen-monumen gitu…

Pas di Borobudur, saya dijawil tukang asongan, ditawarin brem. Wohh… Secara brem bagi saya itu seperti duren bagi Julia Perez, ya saya ho-oh aja dikasi brem.

Beneran saya kira dikasi. Nggak taunya si mas asongan minta duit 3500 perak. Saya kasi 7000 dapat 2 kotak brem. Murah yah?

image

Itu nggak seberapa, temen saya malah dapet dengan harga lebih murah lagi: 1500 Rupiah per kotak. Langsung kumat asma saya mendapati bahwa saya rugi 4000 perak! Gila aja, sangu saya sekolah aja biasanya cuma 100 perak! Itu sudah dapat es ganepo plus tahu isi, atau plus jambu mente atau plus snack sarat MSG yang berhadiah cincin cantik!! Duit seratus perak juga bisa buat bayar denda keterlambatan pengembalian dua buah buku perpus sekolah! Jadi 4000, pada jaman itu, bagi anak SD, gede nilainya.

Apalagi kalo ingat uang masuk sekolah saya waktu itu cuma 5000 perak dan SPP-nya 500 ripis… Nyeseeeel banget rasanya… Tapi liat 2 kotak brem di tangan, saya langsung lupa duit saya yang 4000 itu.

Dari Borobudur, rombongan langsung pulang ke desa asal. Nah, di perjalanan,  brem saya letakkan di frame jendela bis buat temen ngobrol. Hahaha… Saya bilang sama para brem, “Aku makan kalian nanti aja kalo sudah di rumah, aku makan sama adek-adekku, sama mamaku…”

Tapi ngomong gitu sambil buka kotak brem…trus nyuil dikit.

Less is more, kata orang Ponorogo, yang kalo diterjemahkan berarti: kalo kurang, ambil lagi. Hehe… Kira-kira itulah yang saya terapkan sepanjang perjalanan pulang. Bremnya dicuilin, dikit demi sedikit dan tanpa disadari, 2 kotak brem sudah habis. Rencana menjadikan brem sebagai oleh-oleh gagal total karena sudah tinggal kotaknya.

Ingat keganasan saya pada brem, kemaren saya itung… Satu kotak tuh isinya ada 6 keping brem. Per kepingnya kira-kira 15 cm. Menghabiskan 2 kotak brem berarti:

2 kotak x 6 keping x 15 cm = 180 cm

Itu jauh lebih panjang ketimbang tinggi badan saya pas SD kelas 6 yang cuma 140 sentian.

Berasa mesin giling…

Lebih Baik Mati

Bangun pagi, matahari bersinar terang, orang-orang berkeliaran seakan mereka orang paling sibuk di dunia. Seakan sekujur alam semesta ini berpusat dan berpusar untuk diri mereka sendiri. Seakan hidup ini surga yang semestinya dinikmati. Menafikkan derita yang ada, mengabaikan mata yang terbakar panasnya air mata, mereka munafik. Saya muak menyaksikannya.

Korden saya tutup kembali, saya tenggelamkan wajah dalam bantal. Hari ini sama seperti kemarin. Kemarin tak beda dari kemarin lusa. Kemarin lusa persis saja seperi hari-hari sebelumnya. Semua sama. Esok pun bakal sama — sama-sama tak ada artinya. Tak ada gunanya terus-terusan hidup. Lebih baik mati.

Enggan turun dari tempat tidur, saya tak ingin bicara dengan siapapun, juga tak ingin melihat wajah siapapun. Salam dan senyuman hanya akan mencabik-cabik perasaan saya. Bagaimana mereka bisa tersenyum? Tak taukah mereka bahwa kehidupan itu sejatinya merupakan penyiksaan yang hanya akan berakhir jika kita mati? Tak inginkah mereka mati? Kenapa mereka tak mati saja?

Saya benci dunia ini. Sepertinya saya salah tempat. Mungkin tempat saya di dalam kubur. Mati. Itu satu-satunya jalan keluar.

Saya pikirkan segala racun, pisau, silet, tali jemuran mencoba memilih jalan mana yang paling cepat dan pasti bisa mengeluarkan saya dari hidup. Tapi seperti ada orang lain dalam diri saya yang tak bosan menghalangi dengan membeberkan setumpuk alasan untuk tetap hidup.

Jangan. Jangan mati.

Orang ini selalu mendebat setiap kalimat yang muncul dari dalam perasaan saya. Orang ini tak pernah setuju bahwa satu detik adalah satu sayatan bagi jiwa saya. Ia juga tak suka melihat saya meringkuk di kasur, tak berbuat apa-apa seakan lumpuh total, tak makan tak minum seperti mayat.

Itulah saya, kalo depresi lagi menghajar. Dia bisa datang kapan saja, tapi seringnya datang kalo saya bangun pagi dunia sudah sibuk. Saya merasa tertinggal, merasa jadi pecundang, merasa dipermainkan, merasa tak berarti…

Cuma gara-gara telat bangun?

Ya. Cuma gara-gara telat bangun. Kadang cuma karena air atau listrik padam. Kadang karena komputer error. Kadang karena saya memecahkan gelas waktu cuci piring.

Bipolar. Saya.

Di satu waktu saya seperti gubuk reot yang tertimpa batu berapi dari dalam perut bumi, di waktu yang lain saya seperti gedung pencakar langit yang megah. Saya bisa bahagia, penuh syukur, dan menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Saya bisa lebih optimis dari cangkem’e Mario Teguh. Tapi hal-hal sepele bisa bikin saya hancur secara psikis dan nggak karuan secara fisik. Batin saya menderita, jiwa saya tersiksa. Dada saya sesak, leher kaku dan sakit sekali kepala saya. Sekujur tubuh rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau. Kaki saya lemas, tak mampu berdiri.

Pagi berganti siang. Saya mulai merasa bersalah sudah melewatkan waktu tanpa berbuat hal baik. Perasaan bahwa saya pecundang, bahwa saya lebih baik mati, makin kuat. Lalu karena tak bisa bunuh diri, saya memohon, pada siapapun dan apapun, yang mendengar maupun yang tak mendengar, untuk mengakhiri hidup saya. Pada kondisi seperti ini, ditinju, dicambuk, dimutilasi hidup-hidup, dibakar, diapa-apain pun saya mau, saya nurut… pasrah. Tapi orang lain dalam diri saya seperti melotot dan marah, “BAYAR!! Bayar semua waktu yang sudah terbuang sia-sia tadi!”

Saya yang tak tau mau berbuat apa lagi, terpaksa menghapus air mata, kemudian turun dari kasur meski lemah, dan lelah, dan sakit, dan menderita. Lalu mulai bekerja, dengan ritme selambat bekicot.

Siang berganti sore, saya sudah lupa dengan apa yang saya alami beberapa jam sebelumnya. Ritme kerja jadi serba cepat. Ooo… saya belum pernah ketemu orang yang bisa kerja lebih cepat dari saya dengan hasil yang baik. I’m the best when I’m at my best.

Sore mulai gelap, saya kerja makin cepat dan … saya sulit berhenti. Di saat seperti ini saya bisa ngoceh, bisa tertawa, ingin dekat dengan banyak orang. Kerja otak saya di atas maksimal. Saya bisa menyelesaikan banyak hal secara bersamaan, sambil ngobrol, sambil chatting, dan sambil-sambil lainnya. Saya banjir ide, banjir energi. Saya merasa SANGAT SANGAT bahagia dan ingin membagi kebahagiaan yang rasanya tak akan habis meski sudah dihamburkan ke seluruh bumi. Saya ingin menyenangkan hati semua orang, saya ingin semua melihat betapa indahnya hidup ini.

Sudah tengah malam… waktunya tidur. But I’ll sleep when I’m dead. Banyak ide yang harus dituang, banyak hal yang harus diselesaikan, dipelajari, dan dinikmati. Saya peras otak, saya peras keringat… kalo susu saya bisa diperas mungkin ya saya peras juga. Hahahaaaaaii!!

Tau-tau sudah subuh… tau tau langit sudah mulai berubah warna dari hitam jadi putih. Mata ini sudah nggak kuat melek. Saya tertidur di depan komputer yang masih menyala. Tak lama kemudian saya terbangun melihat dunia sudah sok sibuk lagi, matahari sudah menyombongkan diri sebagai satu-satunya yang paling terang di galaksi ini. Burung-burung tetangga sudah teriak-teriak bikin sakit kuping saya. Hari ini, sama seperti kemarin, esok, dan selamanya. Tak ada bedanya. Lebih baik mati.

Bukan Sekedar Mimpi

Mimpi itu cuma kembang tidur.

Etapi kata Sigmund Freud bukan lho! Tiap mimpi ada artinya. Misal kita mimpi nginjek gituan, berarti kita mau dapat rejeki berlimpah…

Hahaha! Itu sih takhayul… bukan Freud.

Saya sangat peduli pada mimpi. Bahkan mungkin lebih peduli pada mimpi daripada pada lingkungan hidup yang makin sulit diselamatkan ini. Suka penasaran sendiri tiap abis mengalami sebuah mimpi aneh, padahal namanya mimpi ya sudah dari sononya memang aneh, tapi setiap hari saya penasaran. Lama-lama saya capek sendiri menanggung derita yang diakibatkan oleh nafsu ingin tau yang tak terpuaskan… akhirnya saya putuskan ya udah deh… dengan ikhlas saya anggap mimpi-mimpi itu nggak ada artinya.

Hingga pada suatu hari, kira-kira 2 minggu yang lalu, saya mimpi aneh bersama seseorang yang saya kenal dari WordPress, kemudian jadi pren di facebook. Namanya Will. Selama 6 taun berteman, sekali PUN nggak pernah ngobrol sama dia, lha kok trus tau-tau mimpi sepedaan sama dia ke upacara kematian seseorang tak dikenal di Argentina. Aneh to??!

Nggak juga sih…

Begitu melek dari tidur, langsung saya ambil hape, ngecek whether he online atau not. (Nyebelin yah bahasa saya?! Hahaha!) Ternyata dia online. Langsung deh saya ceritaken kalo saya mimpi sama dia.

Eee… lha kok kebetulan dia juga suka mengamati mimpi, dan dia bisa ngorek detil-detil mimpi yang saya sempat lupa. Setelah saya cerita dengan lengkap kap kap, dia ijin meditasi dulu (katanya sih…) trus dia kembali membawa interpretasi. Jadinya saya kayak konsultasi mimpi…

Interpretasinya panjang dan lama kayak materi pendidikan sejarah perjuangan bangsa, setiap simbol dijelaskan maknanya. Makna-makna itu berkaitan dengan kondisi psikologis saya, katanya. Dan memang kondisi yang saya alami sekarang persis seperti yang dia artikan dari mimpi saya itu.

Ajaib!

Besoknya saya mimpi lagi, saya tanya dia lagi.

Mimpi lagi, ke dia lagi.

Tapi pada kali ke tiga ini saya sudah sungkan nanya dia terus. Dia sih bilang seneng aja bisa bantuin temen, cuman saya pikir alangkah baiknya kalo saya belajar sendiri.

Brosing punya brosing, saya nemu Android app-nya DreamMoods.com. Keren juga app-nya… setara lah kerennya sama temen saya yang namanya Will itu. Bisa ditanyain anytime, anywhere. Jadi sekarang bangun tidur gak ngerepotin orang lagi. Ngerepotin hape sendiri kan sah to?

Bintang 4 buat app-nya deh! Cuman sayang di situ arti mimpinya pake bahasa linggis doang. Coba ada bahasa Indonesia-nya gitu yah, mungkin nenek mertua saya akan meninggalkan buku tafsir mimpi yang selalu mengartikan setiap mimpinya sebagai perwakilan angka-angka togel.

(Tapi ya susah ding kalo memang kecanduan togel… dikasi bacaan macam apapun gak bakal mempan! Kitab suci aja mendal! Hahaha!)

Anyway, saya kepikiran bikin app serupa punya dreammoods itu. Tapi kalo saya sendirian gak bakal selesai… ada yang mau nemenin bikin? Coding bareng saya asik lho! :D

Komen Goblok

Sejak ada mentri Susi saya jadi doyan baca berita online. Tiap pagi bangun, abis sarapan video-video konsernya Marilyn Manson dan video klip Julia Perez, saya minum berita tentang Bu Susi. Tapi namanya internet ya tingkat distraksinya gede. Niat baca tentang Susi malah ngeloyor ke berita tentang… aduuuuh… banyak! Gak ingat… Biasa saya abis baca sesuatu, kalo saya rasa nggak penting, langsung saya lupakan. Buat apa juga sampah-sampah tentang (misalnya) Fadli Zon atau Raffi Ahmad saya simpen simpen di kepala?! Mending space memory otak saya digunakan buat nyimpen kenangan bersama kamu. Oooeeee!!

Tapi ada satu jenis sampah yang nggak bisa dibuang begitu saja, yakni komentar-komentar goblok yang terlampir bersama berita-berita yang saya bacai itu. Komen goblok tuh suka nempeeeel di ingatan. Kadang sebel sendiri jadinya. Maka ijinkan saya ngomel ‘sedikit’ tentang komen-komen goblok.

Siapapun bisa memalsukan usia, pekerjaan, status perkawinan, ukuran bra dan ukuran penis di internet, tanpa pernah ketauan. Tapi siapapun juga bisa dengan mudah menilai kualitas otak kita hanya dengan membaca apa yang kita utarakan serta cara kita mengutarakannya di internet. Terutama kalo tulisan itu dipostingkan di kolom komentar artikel berita… karena komentar tuh biasanya bersifat impulsif. Orang komen kalo dia tertarik pengen komen dan rasa tertarik itu muncul tanpa direncanakan. Kata demi kata mbrojol begitu saja dari dalam kepalanya. Di sinilah tingkat kebodohan seseorang bisa diukur.

Orang cerdas akan bicara dengan cara yang cerdas meskipun subyeknya itu subyek yang bodoh.

Orang yang bijaksana akan melihat sesuatu hal dengan bijaksana, lalu menimbang apakah pendapatnya cukup bermanfaat untuk disampaikan melalui kolom komentar. Jika tidak, ia memilih diam. Jika iya, ia akan komen dan komennya akan mencelikkan mata orang lain.

Orang bodoh juga kelihatan… gak perlu diterangkan lah ya!

Yang nyebelin tuh kalo pas baca komen yang… udah goblok, sotoy, pake emosi pula!

Misal ada berita dengan judul: Karjo Akui Ada Perjanjian Dengan Pimpinan Tertinggi Penyembah Jerapah.

Dan isi beritanya, intinya: Karjo ada perjanjian dengan pimpinan penyembah jerapah untuk mengurangi jumlah pengikutnya karena sang pemimpin rupanya mulai menyadari bahwa menyembah jerapah itu konyol.

Trus para pembaca komen: Anjing kayak gitu gak bisa dibiarkan hidup! Darahnya halal! Pantas dihabisi!!

Dari komennya aja udah gamblang keliatan kalo itu oramg cuma baca judul beritanya doang, gak baca isinya. Ya to?

Saya masih nggak ngerti cara berpikir orang-orang yang komen sembarangan tanpa baca isi artikelnya. Maksutnya apa? Tujuannya apa? Apa dulu cuma belajar nulis doang, gak belajar baca? Gak mungkin kan ya?!

Anyway, apapun alasan dan tujuannya, satu hal sudah pasti: pengkomen seperti itu bukan cuma goblok, tapi bebal — nggak tau, tapi nggak mau tau… tapi maunya dianggap berpengetahuan. Orang begini biasanya picik, gampang tersinggung, maunya menang sendiri, dan selalu merasa benar.

…sek sek… kok kayak ngomongin saya sendiri ya?!

Hahaha…

Ada juga pengkomen yang sok tau, sok pinter, emosian, tapi nggak nyebelin. Cuman menggelikan.

Dia nggak cuma baca judulnya, isi artikelnya juga dibaca… tapi sebagian doang. Misal artikelnya menyajikan data dan fakta dalam angka-angka, dan penulisnya juga menyatakan bahwa dia ambil data dan hitungkan secara sederhana saja.

And this particular reader komentar: variabel A kok gak diitung? Trus faktor B juga gak disajikan… hahaha! Kalo nggak menguasai bidang XXX gak usah sok nulis tentang XXX, Mas! Jadi keliatan tuh gobloknya! Malu ah…!!

Iiiiih… yang harusnya malu yang mana nih? Yang keliatan gobloknya yang mana nih?? Sudah dibilangin kan penulisnya ngitung sederhana aja.

Mbok ya kalo mau komen tuh baca dulu artikelnya dengan seksama. Seksama dalam pengertian:

1. Setiap kata dan tanda baca punya arti. Kadang satu kata punya beberapa arti, jadi arti setiap kata dalam kalimat dalam setiap paragraf itu perlu dipahami dulu. Jangan asal kira-kira kalo nggak tau arti sebuah kata. Plis deh… kamus ada di mana-mana, gak perlu beli!

2. Tiap kata dipilih dan digunakan karena penulisnya punya alasan dan tujuan tertentu. Ada yang pengen menginspirasi pembaca, ada yang ingin mempengaruhi, ada yang sekedar pengen tulisannya dibaca banyak orang… kemungkinan alasan penulis juga perlu dipertimbangkan dalam membaca supaya Anda terhindar dari dosa. Pikir kalo Anda maki-maki orang karena ada yang bilang tuh orang blablabla dan Anda gak suka dengernya. Kemudian setelah puas memaki, Anda menemukan bahwa yang Anda dengar itu Pitnah!

Lagian, Anda tau kan kemungkinan besar orang yang Anda caci-maki itu nggak baca komen Anda? Kalopun dia baca, trus apa Anda pikir dia akan melabrak Anda dan Anda bisa meludahi mukanya pada kesempatan itu?

Come oooooon!!

3. Pelajari latar belakang penulisnya supaya Anda tau Anda dapat info itu dari orang seperti apa. Apakah dia pakar, penulis gila traffic, atau orang yang cuma ingin menyampaikan opininya? Kalo penulisnya itu bukan pakar, atau penulisnya itu pakar gosip… yooo gak usah serius-serius reeek mocone!

Setelah membaca dengan seksama, baru deh mikir mau komen atau kagak. Pikir juga komen itu manfaatnya apa … setidaknya bagi Anda sendiri kalo Anda terlalu egois untuk mikirin manfaat bagi penulis artikelnya dan pembaca lain. Kalo nggak ada manfaatnya mending diem aja lah daripada buang-buang kuota internet. Ya to?!

YANG TERPENTING: kalo cuma baru baca judulnya, atau baru baca sebagian, gak usah deh mikir mau komen. Mending lu buka kolkas, masuk ke freezer… biar adem itu kepala.

Everybody Loves Karjo

Kadang terbersit pikiran andai hati orang-orang yang peduli dan tulus mengasihi saya bisa saya tukar dengan uang, saya pasti kaya raya sekarang. Tapi dipikir lagi… ah, buat apa juga kaya kalo nggak ada yang peduli sama kita? Kalo bisa kaya raya dan dicintai banyak orang sekaligus, saya mau. Sayangnya, orang kalo sudah kaya tuh biasanya dikerubungi orang-orang yang ‘ada maunya’, bukan yang ‘maunya ada’.

Kalo kita kere, jelek, nyebelin, tapi ada orang yang mau ada untuk kita, itu baru sesuatu.

Saya kere, jelek dan nyebelin (menurut saya sih…) tadinya saya nggak percaya ada orang yang beneran peduli sama saya. Saya pikir mereka baik sama saya karena terpaksa, karena keadaan, atau karena beban moral.

Pacar-pacar baik karena untuk sementara waktu bisanya cuma dapet saya. Kalo bisa dapet yang lain, yawes… saya nggak ada artinya!

Teman-teman baik karena biar jelek-jelek gini saya masih bisa dijadiin tempat sampah hati mereka, tempat curhat, dan mencari perhatian.

Dan orang-orang yang nggak begitu akrab baik sama saya karena yaaah… sesama manusia ya harus saling tolong-menolong! Itung-itung nyari pahala…

Nggak ada yang sungguh-sungguh sayang sama saya.

Itu pikiran jaman dulu… eh, kemaren ding!

Sekarang, setelah mengingat, menimbang, dan menangis terharu, saya temukan segunung bukti bahwa mereka peduli, dan sayang sama saya bukan karena terpaksa. Tapi tulus.

You see… Saya ini suka seenaknya sama orang lain. Nggak sedikit yang bilang saya egois, self-centered, bahkan ada yang bilang saya ini narcissistic dalam makna yang seperti di kamus Oxford. Saya nggak peduli sama pendapat dan perasaan orang lain. Saya lakukan apa yang saya suka, kalo lu nggak suka: minggir lu!

Tapi mereka nggak minggir meskipun kadang nggak suka. Mereka memperhatikan. Kalo saya bahagia dengan apa yang saya perbuat, mereka ikut bahagia. Kalo saya jatuh dan terluka, mereka hujani saya dengan bantuan nyata, tanpa banyak bicara. Apa yang mereka punya, mereka berikan untuk saya. Dan saya bisa datang dan pergi dari mereka seenak tungkak saya.

DAN orang-orang seperti itu nggak cuman satu-dua dalam hidup saya. Ada banyak. Bahkan kadang rasanya terlalu banyak buat saya… mengingat bahwa saya belum dan mungkin nggak akan pernah bisa membalas kebaikan mereka semua.

Dari Blitar sampe Birmingham, dari Surabaya sampe Ekuador, Jakarta sampe Ontario, everybody love Karjo. Segenap hati saya bersyukur. Andai detik ini mereka semua ada di hadapan saya, sungguh saya mau nyium kaki mereka satu per satu sebagai ungkapan rasa terimakasih karena ternyata… — ini serius saya nggak melebih-lebihkan — tanpa cinta mereka, mungkin sekarang saya ini sudah berupa tengkorak di dalam kubur.

Sayangnya saya baru nyadar ini… nggak dari dulu-dulu…

Gak Kawin Lho Gak Mati, Cuk!

Di antara kita pasti ada yang usia sudah nggak kepala dua lagi, tapi masih belum dapat pasangan hidup. Kalo memang pengennya hidup sendiri sampe mati sih gak masalah. Yang masalah itu ketika yang bersangkutan sudah lama ngebet pengen berkeluarga tapi pacar aja sampe sekarang belum punya. Padahal usianya (minjem istilah kawan saya) sudah kadaluarsa.

Kita nggak tau masalahnya apa kok mereka bisa nggak laku-laku sampe kadaluarsa begitu. Ada yang cakep tapi… nggak laku. Ada yang keren tapi… ya nggak laku. Ada yang sampe banting harga ya nggak laku juga.

Beberapa kawan saya sering curhat perkara ini. Saya cuma bisa menyemangati aja: GAK KAWIN GAK MATI, CUK!

Saya bilang:

1. Pasangan tuh gak usah dicari. Seperti kata seorang bencong yang saya temui di Surabaya, “aku lho gak mangkal, lanang teko dewe…”

Mosok kalah sama bencong?!

Do what you love, gak usah mikir kamu jomblo, gak laku. Nanti jodoh datang sendiri…

Kalo jodohmu belum ketemu jodohnya yang lain…

2. Kalo ada makhluk yang naksir kamu, buka mata, liat apa aja kualitasnya. Ada kelebihan sebiji dua biji aja, sabet! Gak usah nyari sempurna karena…

Seperti banyak terjadi, setelah kawin nanti dia bukan lagi orang yang sama seperti waktu masih kamu pacarin. Dulu kayak manusia… lha kok setaun kawin mulai keliatan bulu-bulu aneh…

Dua taun kawin, kupingnya keliatan agak panjang…
Tiga taun ketauan ekornya…
Empat taun kawin taringnya nongol…

Barulah kamu tau ternyata dia siluman tikus.

Sekali lagi ga usah nyari sempurna. Saut aja yang ada. Bukannya obral diri tapi… memperluas kesempatan.

3. Naksir jangan cuma seorang. Naksirlah sebanyak-banyaknya. Tembak semua kalo kamu mau. Siapa yang menyatakan kesediaannya untuk kamu pacarin, pacarin. Kalo banyak yang bersedia, pacarin semua!

Biarkan masing-masing mereka tau kalo jumlah pacarmu bisa menuhin angkot seterminal. Yang nggak tahan pasti pada pergi. Tapi dari situ kamu bisa liat siapa yang tulus mencintai kamu, yang mengerti kamu, dan yang nggak mementingkan perasaannya sendiri. Pertahankan satu-satunya yang masih tahan sama kamu.

4. Kalo nemu si the onePacarannya gak usah pake hati. Percuma. Nanti kalo sudah kawin, hatimu nggak bakal ada artinya. Trust me with this. Cinta nggak bakal kamu temukan di dalam bahtera rumah tangga kecuali pas awal-awal baru kawin dan pas kalian berdua mau mati. Sepanjang rentang waktu di antara itu… hatimu cuma boleh disimpan dalam bungkus permen, lempar ke gudang.

5. Jangan putus asa. Jangan minder. Jangan sedih. Kalo sampe tuwir gak dapet jodoh juga, at least kamu punya gelar playboy. Atau playgirl. Gak ada yang berani bilang kamu gak laku. Dan semua temanmu yang sudah pada kawin pasti pada mupeng, iri melihat jayanya kemerdekaanmu, bahkan nyesel dulu pake kawin segala. Sedang kucing pun tau, gak kawin lho gak mati, cuk!

Electone Tetangga

Kalo udah rumah tangga, udah ga ada yang namanya patah hati. Adanya patah semangat akibat gersangnya tanggal tua. Putus cinta juga ga ada. Yang ada tali beha yang putus saking udah berbulan-bulan gak sempat ke mall beli beha baru.

Iyes. Beli beha HARUS di mall dong… di pasar ga ada fitting roomnya… mau nyoba beha gimana?? Mosok copot baju di depan bakul pindang?! (Kebetulan bakul beha di pasar deket rumah saya ini berada di depan bakul pindang)

Ga ada juga yang namanya taksir-taksiran, demen-demenan. Yang ada cuman naksir Tupperware kreditan, naksir panci kreditan, atau bed cover kreditan tapi gak berani nembak karena… gimana yaaah…?? Barang kreditan sih…Sori… Nggak lepel!!!

Hahaha… gaya!

Urusan cinta saya sudah lupa rasanya. Tapi tadi pas cuci piring, saya seperti diingatkan lagi…

Tetangga sebelah kan hobi main electone. Kalo main pake ampli volume kenceng, sekampung denger semua. Biasa dia mainin lagu dangdut jorok, mules perut saya dengernya!

image

Tapi tadi tumben dia main lagu pop jadul yang mungkin sudah puluhan taun nggak pernah berkumandang di radio. Judulnya: Kemesraan. Ga tau siapa yang membawakan lagu aslinya. Gak pengen tau juga karena bagi saya, yang membawakan lagu itu adalah demenan saya, duluuuuu banget.

Di usia yang masih belia, dia sudah jago gitar. Biasa anak umur segitu kan cuma ngerti chord aja, yang penting bisa gitaran lagu-lagunya Bon Jovi dan nyanyi sama teman-teman sambil belajar ngisep rokok, itu sudah lebih dari cukup. Tapi nih cowok bisa lebih jauuuh dari itu. Tiap ada acara sekolah yang melibatkan musik dan gitar, pasti dia yang ditunjuk pegang gitar karena… apapun lagunya, dia bisa mengiringi meski belum pernah denger sama sekali sebelumnya. Kalo saya sekarang bisa main gitar, dia inspirasinya. Yaaa… memang ga ada apa-apanya sih kalo dibandingkan sama dia. Tapi lumayan lah, bisa buat cari duit di perempatan-perempatan kota.

Jrenggg!

Pada suatu ketika, ada acara sekolah di mana dia diminta mengiringi Pak Guru nyanyi lagu Kemesraan. Nah… di depan, di atas panggung, dia duduk menggerayangi gitar, tapi matanya terpaku di saya yang duduk manis layaknya penonton yang budiman.

Matanya tajam, aktual dan terpercaya. Buset. Rasanya pengen saya kupas ini wajah saking malunya diliatin demenan…

Sesekali dia senyum ke saya… rasanya ini jantung mendadak bengkak mau pecah dalam dada.

Trus lagunya selesai. Dia turun panggung, trus duduk di sebelah saya trus nyanyi pelan-pelan di kuping saya…

“Kemesraan iniiii… janganlah cepat berlaaaluuu…”

“Aku ga suka lagu itu,” saya dulu kalo salting jadi negatif reaksinya. Hahaha..  malu…

Tapi trus dia bilang, “Sama… aku juga ga suka. Aku sukanya sama kamu.”

Dan seluruh dunia hancur jadi debu dan hilang dibawa angin. Tinggal saya sama dia. Hahaha… rasanya doang yang begitu… aslinya di situ waktu itu ya rameee dan ribuuuut.

Begitulah… jadi benar kalo orang bilang sampe tai kucing pun rasa coklat.

*****

Abis main lagu Kemesraan, tetangga main dangdut jorok lagi. Mules lagi deh perut saya… jadi keingat waktu demenan ngasi kabar buruk, trus kita terpaksa mau nggak mau, berpisah. Sakitnya tak terperi sampe depresi bertaun-taun. Dunia rasanya bagai neraka, kecuali WC. WC adem, enak buat nangis.

Dikepetin Babi

Waktu kecil saya pernah diajarin: kalo di hutan ketemu babi hutan, diam! Jangan teriak. Jangan bergerak. Diam. Kalo merasa terancam, babi hutan bisa nyerang kamu.

Kemudian saya ke hutan dan iyes mister… dasar memang hutannya banyak babinya, ketemuan deh saya sama babi hutan! Jarak antara kami berdua kira-kira 8 meteran… entah itu jarak aman atau kagak, saya nggak tau. Yang penting diam. Diam layaknya sebatang pohon kecil. Malah kerenan saya, ada angin berhembus pun saya nggak goyang. Dan babi berlalu.

Trus kemaren lusa…

Masih sore buat saya, kira-kira jam setengah duabelas malam, saya lagi di kasur berdua sama anak saya. Anak tidur, saya nge-game. Asik-asik nge-game tau-tau terdengar ada suara sesuatu sedang jogging di pelataran tepat di samping kamar saya. Wira-wiri terus dia di situ. Dari suara langkahnya saya perkirakan itu hewan yang lumayan besar… kira-kira sebesar babi hutan yang besar. Kebayang babi-babi piaraan Mason di film Hannibal, yang disajeni manusia, yang kemudian mereka makan hidup-hidup.

Saya 1: Ah, tapi mungkin anjing…

Saya 2: Anjing siapa?

Saya 1: Anjing liar mungkin?

Saya 2: Anjing liar ga ada yang ngasi makan… otomatis kurus dan biasanya postur tubuhnya kecil-kecil. Langkahnya nggak mungkin seberat itu… Kalo anjing piaraan, kalo besar biasanya harganya mahal, kalo mahal biasanya dijaga baik-baik sama yang punya…

Saya mau sibak tirai jendela kamar, tapi nggak berani, takutnya babi ngepet beneran karena saya ingat akan suatu senja, masih di bulan September ini…

Lepas maghrib saya ke warung beli rokok. Pas balik, dalam langkah menuju ke rumah saya liat seekor babi hutan keluar dari rumah tetangga. Gede item babinya dan dia berlari di depan saya sebelum akhirnya menghilang seperti uap.

image

Memang di kampung sini hampir semua orang yakin ada salah satu di antara kita yang hobi ngepet karena nggak sedikit yang pernah mendapati seekor babi hutan berkeliaran di dalam kampung.

Nah, kalo yang di luar kamar saya itu babi ngepet beneran, saya musti ngapain?? Saya tau nggak tau cara menghadapi babi ngepet. Apa sama dengan babi hutan? Pengen buka korden, tapi nggak berani. Diem aja saya mendengarkan langkah-langkahnya, menunggu dia pergi. Tapi gak pergi-pergi… tuh makhluk masih aja seliweran di samping kamar.

Saya dengar suara nafasnya… berat, serak, ada ngok-ngok paraunya kayak nafas babi hutan. Makin didengerin makin jelas itu suara nafas babi, dan makin gemeteran badan saya ketakutan. Akhirnya saya teriak. Ibu mertua dan kakak ipar datang tergopoh-gopoh. Saya bilang sepertinya ada babi ngepet barusan di deket kamar. Kakak langsung emosi, selalu begitu kalo dia denger ada yang gangguin saya atau anak-anak saya. Dia langsung ambil tongkat pemukul anjingnya, trus lari keliling kampung, nyari babinya barangkali ketemu. Tapi nihil. Ga ada babi. Entah lah… mungkin cuma anjing, mungkin babi ngepet atau babi beneran, mungkin cuma halusinasi saya…

Masa-masa Jancuk di Sekolah (2)

Masa terindah adalah masa SMA, kata mereka. Buat saya, nggak seperti itu. Saya dulu nggak punya temen, hampir semua temen nggak suka sama saya. Sebagian terang-terangan menjadikan saya bahan lelucon, dan sisanya diam-diam menganggap saya arek aneh. Memang bukan kondisi yang menyenangkan, tapi mereka nggak bisa disalahkan. Mereka nggak menerima saya bukan karena saya cacat, bukan karena saya jelek, bukan karena saya goblok, dan sebagainya… melainkan karena saya tidak mau didekati. Saya benci, saya jijik, saya mual lihat mereka. Menurut saya mereka aneh, kampungan, ribet — yang nakal sok metal, yang diem sok alim, yang cakep keganjenan, yang pinter… pinter njilat silit guru. Kebencian mereka terhadap saya hanyalah pantulan dari kebencian saya terhadap mereka.

Di sekolah, ke mana-mana saya sendirian. Ketika cewek lain pipis tuh perginya bawa temen, saya bawa polpen… buat jaga-jaga kalo ada yang macem-macem sama saya di toilet… colok matanya. Dan yahh, polpen saya sempat menunjukkan baktinya memang, meski bukan nancep di mata orang.

Waktu itu, semua murid pada duduk manis menikmati pelajaran di kelas, saya keluar ijin pipis… tapi nggak pipis. Males di kelas, mending ngadem di toilet. Tau-tau seorang guru yang terkenal suka nowelin toket para gadis remaja mendatangi saya di toilet. Bukan mau nyabulin… gak nafsu dia kalo sama saya. Dia demennya sama cewek-cewek yang penurut, berparas manis dan dilengkapi sepasang toket yang grewol-able. Saya sih udah hapal, kalo dia deketin saya, berarti dia mau ngomel.

Di toilet, sementara mulut dia ngomel, saya diem. Tapi tangan saya nggak diem. Saya bikin coretan di dinding kamar mandi, di depan mata pak guru, “BAMBANG JANCUK KAKEAN CANGKEM” trus saya tinggalin dia di toilet — pergi ke kantin, makan tahu isi, minum es kelapa muda. Ngutang.

Saya nggak takut apa-apa di situ. Apapun hukuman yang pernah diganjarkan atas kelakuan saya, saya terima dengan legowo. Dijemur, diskors, disuruh mengakui kesalahan di depan setiap kelas di SMA, dimasukkan daftar hitam… I didn’t caaaaare!! Saya tau saya salah karena nggak mau ikut aturan sekolah, tapi saya nggak berhenti memberontak apalagi berubah jadi murid yang baik. No fucking fucks given. Kalopun dulu sampe dikeluarkan dari sekolah, saya malah seneng. Muak kali sekolah…

Tapi ada satu kesalahan yang saya sesali.

Kelas 3, ada satu bidang studi yang saya nggak suka: Sosiologi. Menurut saya itu pelajaran paling membosankan. Nggak ada serunya, saya nggak tertarik. Tiap pergantian jam pelajaran menuju sosiologi, saya keluar kelas sebelum ibu guru sosiologi masuk. Saya cabut ke perpustakaan, pintu perpus saya tutup, dan saya belajar sendiri di situ. Saya suka filsafat.

Mingu demi minggu berlalu seperti itu. Hingga pada suatu hari saya dapat ‘undangan’ ke ruang guru. Saya hadiri.

Waktu masuk ruang guru, nampak 4 orang guru berdiri dengan wajah marah. Bu guru sosiologi duduk dengan muka sedih. Kemudian… biasaaa… saya diomelin. Yang ngomel guru-guru yang pada berdiri tadi. Bu guru sosiologinya diem aja.

Mungkin merasa percuma ngomelin saya (yang diomelin diem dan datar-datar aja) baru lima menitan mereka pun membubarkan diri, membawa pergi kekesalan mereka masing-masing. Tinggal saya dan bu guru sosiologi di situ, dan ia pun bisa bersuara.

Beliau mengungkapkan betapa dalam kesedihannya mendapati ada satu murid yang nggak pernah mau hadir di kelasnya. Beliau menyadari mungkin cara mengajarnya membosankan, mungkin penjelasannyanya sulit dicerna sebab beliau guru baru, pengalamannya belum panjang. Beliau minta, daripada cabut dari kelas, alangkah baiknya kalo saya ajak beliau bicara, kasih masukan atau kritikan kalo ada hal tentang cara mengajarnya yang kurang pas bagi saya sebagai murid. Dan beliau ngoceh panjang lebar gitu… sambil menangis…

Saya paling nggak kuat liat orang nangis. Air matanya meluluh-lantakkan hati saya. Dan saya jadi nyesel sudah seenaknya ngilang dari kelas sosiologi. Sama sekali nggak ngira gurunya bakal sedih. Kirain sama aja kayak guru lain-lainnya: marah, marah, dan marah.

Sejak masuk ruang guru waktu itu saya tutup mulut senantiasa. Ini defense mechanism saya kalo menghadapi orang-orang yang nggak suka sama saya. Percuma bicara karena apapun yang saya katakan pasti mereka jadikan senjata untuk menyerang saya. Ditanya atau digampar pun saya diam. Tapi berhubung bu guru nangis, saya nggak bisa nggak bicara. Saya merasa bersalah… saya minta maaf dan janji nggak bakal mengulanginya lagi, demi ibu guru sosiologi.

Don’t fight fire with fire, itu moral of the story-nya. Kalo Anda seorang pendidik, jangan hadapi peserta didik yang ndablek dengan kemarahan, atau kejengkelan. Coba hadapi dengan perasaan yang lembut. Kalo Anda seorang siswa sekolah, think twice before you break some rule. Kalo ada kemungkinan itu bisa melukai hati orang, lebih baik jangan. Nggak keren itu. Jahat itu namanya… Nakal ya nakal, tapi yang baik.

Kalau Cinta Jangan Marah

Teringat sebuah adegan mengecewakan yang saya saksikan beberapa saat lalu di sebuah tempat pemandian alias kolam renang atau yang oleh pengelolanya disebut waterpark.

image

Saya kongkow-kongkow sendirian di pinggir kolam, nyatpamin anak-anak yang lagi pada have fun main air. Namanya anak kecil yah… kalo ketemu air langsung pengen jadi terumbu karang, gak mau keluar dari air untuk kembali jadi hewan darat. Berenang dari pagi, udah sore juga belum mau diajak pulang. Emaknya capek, kepanasan, anak kecil mana ngerti?

Hal yang sama juga terjadi pada sepasang suami istri yang duduk nggak terlalu jauh dari saya. Kalo saya sih nyantai aja — anak ga mau keluar dari air ya tunggu aja sampe mereka mau, dengan beberapa catatan. Tapi tetangga saya di kolam renang ini kagak. Yang babon ngomel-ngomel, kokok petok kayak ayam mau bertelor gara-gara anak-anaknya ga mau diajakin pulang. Si babon sampe teriak-teriak bentakin, anaknya ga gubris…

Akhirnya si babon ngomelin pejantannya yang duduk-duduk sok keren dengan jaket kulitnya. Mungkin males denger istrinya ngomel mulu, si pejantan pun berdiri datengin anaknya di dalam kolam diajak pulang. Ga pake teriak, ga pake bentak, anaknya pada mentas dan berlarian ke ruang ganti. Si babon akhirnya duduk tenang sambil kipas-kipas. Saya nyalain rokok saya…

Gak lama saya liat pejantannya nongol. Di belakangnya berlarian dua ekor piyiknya, sudah mandi bersih… tinggal pake sepatu, nyandang tas, pulang deh! Tapi ternyata itu malah bikin si babon ngamuk. Dengan beringas dia bentak suaminya, “Kok mbok dusi ng kene?!! Goblokk!”

Huwiiiik…

Ya sudahlah… suami-suami dia, urusan dia, resiko dia. Saya melengos aja. Kalo nontonin terus bisa-bisa nggak sadar saya jejelin kaki kursi tuh mulut si babon. Perkaranya apa, marahnya seberapa… nggak sebanding. Saya jadi teringat pasangan suami istri lain yang pernah saya saksikan sebelumnya di stasiun kereta api. Waktu itu saya mau ke Surabaya. Biasaaa… nggembel… naik kereta ekonomi, tidurnya di emper hotel bintang lima bantalan tas kresek isi sempak dan sikat gigi.

Keretanya belum datang, semua calon penumpang pada keleleran di peron. Di dekat saya duduklah sepasang suami istri. Yang perempuan cantik, yang laki …ajurrr. Plus… giginya rompal semua. Ga tau tuh gigi pada ke mana, masa saya musti tanya…?! Rese amat… Tapi meskipun secara tampilan seakan nggak serasi, mereka mesraaa gitu kayak stasiun itu punya mbahnya aja. Cekikikan, sayang-sayangan, cium-ciuman. Yang nonton pada ngiler. Seneng saya liatnya.

Eee tapi baru lima menit tau-tau mereka udah marah-marahan. Gak lama trus gampar-gamparan. Yang perempuan nangis. Mau saya bikinin ring tinju tapi eee mereka udah peluk-pelukan lagi. Ya sudah…

Mungkin memang biasa kalo pasangan kadang marah-marahan, bertengkar, bacok-bacokan… (eh yang terakhir nggak biasa ya?) Cuman menurut saya, bertengkar pun harus ada kualitasnya. Kalo cuman gara-gara suami mandiin anak di kamar mandi umum kayanya gak perlu deh ngamuk-ngamuk dan ngatain suaminya goblok di hadapan publik, atau gampar-gamparan di stasiun…

Woless… sebelum marah dihitung dulu, perkaranya apa? Pentingnya seberapa? Kalo sepele dan bisa diselesaikan tanpa bertengkar ya ga usah keluarin emosi. Katanya cinta… kalo cinta ya yang lembut dong, ga usah pake marah… Bicara aja baik-baik. Kalo pasangannya gak bisa diajak bicara baik-baik, baru ambil linggis, tancepin palanya. Ga usah banyak mulut.

Pretty Unschooled

Tito yang 3 taun lalu ribut minta sekolah, sekarang sudah nggak mau sekolah lagi.

Jumat kemaren dia pulang dalam keadaan muram. Saya tanya kenapa, dia cuma bilang dia gpp cuman capek. Oke, saya suruh tidur siang sebentar.

1 jam kemudian saya bangunkan Tito buat siap-siap berangkat ekskul seni lukis. Dia geleng-geleng doang. Trus tidur lagi.

Sabtu, Minggu, libur. Senen pagi saya bangunkan Si Tito, dia bangun tapi cuma diam. Nggak turun dari kasur. Mungkin lagi jenuh. Ya sudah, biarin bolos lah.

Selasa, sama kayak hari Senin. Rabu juga. Akhirnya tadi malam saya ajak Tito ngobrol.

Saya: Tito sudah 3 hari bolos lho. Besok sekolah nggak?

Tito: *geleng-geleng*

Saya: Tito masih niat sekolah apa nggak?

Tito: *nunduk trus geleng-geleng*

Saya: Kenapa?

Tito: Tito takut.

Saya: Takut apa? Takut dimarahin Bu Guru?

Tito: *ngangguk*

Saya: Tito kan pintar, baik hati, nggak nakal, nggak bakal ada guru yang tega marahin Tito…

Tito: Tapi kemaren pas terakhir sekolah tuh, Tito liat teman Tito dipukul pake penggaris kayu yang besar itu lho Ma… tangannya yang dipukul, sama Bu Guru… Tito sampe tutup mata nggak berani liat tangannya teman Tito berdarah…

Shocked.

Hareee geneee…?? Ada guru yang masih berani main fisik ke muridnya?? Dan ini kelas 1 SD! Anak seumuran gitu nakalnya paling apa sih? Bukan judi di kelas, bukan ngedarkan narkoba atau bawa sangu Jack D kan?! Kok pake pukul segala? Rasanya pengen langsung lapor ke polisi tapi… lha yang dipukul bukan anak saya…

Trus tadi pagi emak saya main ke rumah. Liat Tito nggak sekolah, dia tanya kenapa nggak sekolah, saya ceritakan kisah di atas. Daaan… emak pun menambahkan, anaknya adek saya, namanya Melissa, yang mana adalah satu sekolah sama Tito dan sama-sama kelas 1 SD (cuman beda kelas) juga menampakkan gejala-gejala yang sama: ogah-ogahan berangkat sekolah dan sering pulang sekolah dengan wajah murung. Melissa ini sudah beberapa kali bilang nggak mau sekolah tapi terus dipaksa sekolah karena… you know, mempertimbangkan masa depan si anak. Kalo saya sih dari awal pengennya anak saya homeschool aja. Cuman dulu kan Tito getol minta sekolah dan setelah sekolah dia berusaha mempertahankan status kesiswaannya, jadi saya sekolahkan terus. Sekarang nggak mau sekolah, ya udah…

Saya: Biar belajar di rumah aja lah…

Emak saya: Iya, ijazah beli aja kan banyak.

Keren Kayak Kemaren

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 754 pengikut lainnya.